Profil & Biodata Basuki Tjahaja Purnama/Ahok

Sosok politisi yang akrab disapa Ahok ini memang memiliki perjalanan karir politik yang cukup fenomenal. Berlatar sebagai Insinyur ternyata takdir tuhan membawanya menjadi seorang politikus, namanya mulai mencuat kepermukaan semenjak menjadi tandem Joko Widodo untuk maju dalam Pilkada DKI 2012 dan karir politiknya terus menaik hingga akhirnya Ahok tersandung kasus penistaan agama.

Penasaran dengan perjalanan hidup Ahok dari awal hingga ke Jakarta, yuk simak Profil dan Biodata ahok di bawah ini.

Biodata Basuki Tjahaja Purnama/Ahok

NamaBasuki Tjahaja Purnama (Ahok)
Tempat, Tgl lahirBelitung Timur, 29 Juni 1966
PasanganVeronica Tan (1997 – 2018)
Puput Nastiti Devi (2019 – Sekarang)
AnakNathania Purnama
Daud Albeenner Purnama
Nicholas Purnama
Orang TuaBuniarti Ningsih (Ibu)
Indra Tjahaja Purnama (Ayah)
EtnisTionghoa
ProfesiInsinyur, Politikus

Profil Basuki Tjahaja Purnama/Ahok

Ahok menjadi sosok yang fenomenal karena gaya kepemimpinanya, tak jarang Ahok menggunakan nada tinggi dan kata yang cukup kasar apabila geram melihat anak buahnya yang tidak becus bekerja. Dengan gaya koboi seperti ini ternyata banyak yang menyukai cara Ahok memimpin, namun sebagian besar juga merasa hal itu tidak sepatutnya dilakukan oleh seorang pemimpin. 

Karir politik Ahok dimulai sejak beliau masih tinggal di kampung halamanya dengan menjadi Bupati Belitung Timur, pada Pemilu 2009 Ahok berhasil lolos ke Senayan menjadi anggota DPR RI dan puncak karirnya ketika Ahok dipasangkan dengan mantan Walikota Solo yaitu Joko Widodo untuk berlaga dalam Pilkada DKI Jakarta 2012.

Penasaran dengan perjalanan hidup pribadi Ahok dan sepak terjangnya di dunia politik hingga harus merasakan dinginnya jeruji besi, yuk simak ulasan lengkap dan mendalam tentang profil dan biodata Ahok banyak fakta dan info menarik yang sayang jika kamu lewatkan.

Kehidupan Awal dan Pendidikan

Terlahir dengan nama Basuki Tjahaja Purnama dari pasangan Indra Tjahaja Purnama dan Buniarti Ningsih. Ahok merupakan anak sulung dari 5 bersaudara yaitu Basuki Tjahaja Purnama, Fifi Lety Indra, Harry Basuki dan Basu Panca Frasetio yang telah wafat saat masih muda. Nama Ahok dia dapatkan dari sang Ayah yang mulanya berasal dari kata “Banhok” yang dalam bahasa mandarin memiliki arti “Ban” yaitu Puluhan Ribu, dan “Hok” yang berarti Belajar. 

Ahok kecil menghabiskan pendidikanya di Belitung Timur baik dari SD hingga SMA,  ketika menginjak masa kuliah Ahok memutuskan untuk melanjutkan studinya ke Jakarta yaitu di Universitas Trisakti dengan mengambil jurusan Teknik Geologi dan resmi mendapatkan gelar Insinyur pada tahun 1990. Tak cukup menjadi Insinyur Ahok melanjutkan studinya ke jenjang master di Sekolah Tinggi Manajemen Prasetya Mulia dan resmi menyandang gelar Master Manajemen di tahun 1994.

Keluarga

Ahok membangun rumah tangga dengan Veronica Tan yang telah dia persunting pada tahun 1997, kebahagian Ahok membangun keluarga bersama Veronica ditandai dengan kehadiran putra pertamanya Nicholas Sean Purnama, disusul kehadiran putri kecil Nathania Berniece Zhong, dan anak bungsu mereka Daud Albeenner Purnama. Perjalanan rumah tangga Ahok dan Veronica harus kandas setalah 21 Tahun hidup bersama akibat kasus perselingkuhan ketika Ahok harus mendekam di penjara.

Babak baru kehidupan Ahok dimulai setelah keluar dari penjara, Ahok memutuskan untuk menikahi Puput Nastiti Devi yang merupakan seorang Polwan yang sebelumnya ditugaskan untuk menjadi pengawal Veronica ketika Ahok masih menjabat jadi Gubernur. 

Pernikahan Ahok dengan Puput berlangsung dengan diam-diam tanpa sorotan media dan saat ini Ahok telah hidup bahagia dengan Puput terlihat unggahan foto di media sosialnya.

Karier Bisnis

Setelah mendapatkan gelar sarjana Teknik Geologi dari Universitas Trisakti Ahok langsung kembali ke kampung halamanya untuk membangun usaha yang bergerak dibidang pertambangan timah yaitu CV Panda. Cukup sukses dengan usaha kontraktor pertambangan, Ahok ditunjuk untuk menjadi Direktur PT Nurindra Ekapersada hingga tahun 1995 dia memutuskan untuk keluar dari perusahaan tersebut.

Memiliki pengalaman dan tabungan yang cukup memadai akhirnya Ahok memutuskan untuk mendirikan pabrik pengolahan pasir kuarsa di daerah Manggar, Belitung Timur. Berkat Ahok akhirnya terciptalah pabrik pengolahan pasir kuarsa pertama di Belitung yang juga memanfaatkan teknologi baik dari Amerika dan Jerman. Investor asal Korea Selatan berhasil diyakinkan untuk mendirikan smelter pengolahan dan pemurnian biji timah di KIAK.

Sepak Terjang di Dunia Politik

Tak puas hanya menjadi Pengusaha Ahok mencoba untuk melakukan perubahan besar-besaran di Belitung melalui jalur politik. Pada tahun 2004 Ahok turun dalam Pemilu 2004 untuk menjadi calon anggota DPRD Kab. Belitung Timur dari Fraksi Partai PIB. Melihat peluang besar pada Pilkada 2005 akhirnya Ahok meninggalkan jabatanya di DPRD dan menggandeng Khairul Effendi untuk berjuang dalam Pilkada 2005 memperebutkan kursi Bupati – dan Wakil Bupati Belitung Timur.

Pasangan Ahok – Effendi berhasil mengantongi jumlah suara sebesar 37,3% dan memuluskan langakahnya untuk menjadi Bupati dan Wakil Bupati Terpilih Periode 2005 -2010. Ahok menjabat Bupati Belitung Timur tidak sampai 2 tahun, dia menyerahkan jabatannya tersebut kepada Wakil Bupatinya dan memutuskan untuk mengejar jabatan Gubernur Bangka Belitung pada Pilkada 2007.

Mendapatkan dukungan dari K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) nyatanya tidak membuat karir politik Ahok mulus, pada Pilkada 2007 Prov Bangka Belitung Ahok harus mengakui kekalahanya dari pesaingnya yaitu Eko Maulana Ali. Padahal semasa menjabat Bupati Belitung Timur Ahok membebaskan biaya kesehatan kepada warga Belitung Timur, dan di tahun 2008 Ahok menelurkan karya pertama dalam bentuk Biografi dengan judul “Mengubah Indonesia”.

Sifat pantang menyerah memang menjadi karakter Ahok pada tahun 2009 Ahok kembali berlaga dalam ajang Pemilu 2009. Mendapatkan dukungan dari Partai Golkar Ahok maju mewakili daerah pilihan Bangka Belitung, sepak terjang politiknya di daerah Bangka Belitung memang sudah mentereng terbukti Ahok berhasil mengantongi 119.232 Suara dan membuka jalan lebar untuk menduduki kursi dewan di Senayan Ahok mengambil komisi I.

Menjadi Gubernur DKI Jakarta 

Sebelum dipasangkan dengan Joko Widodo pada perhelatan Pilkada DKI Jakarta 2012 tadinya Ahok mencoba untuk maju menjadi Calon Gubernur melalui jalur independen namun melihat persyaratan yang cukup sulit. 

Melihat persaingan yang cukup sengit dan sederet nama tenar ikut meramaikan Pilkada DKI Jakarta 2012 pasangan Jokowi – Ahok diprediksi tak akan mampu melaju lebih jauh. Namun semua itu terbantahkan ketika hasil putaran pertama menunjukan pasangan Jokowi – Ahok memperoleh 42,6% suara yang membuatnya maju pada putaran ke 2.

Pada putaran ke 2 hanya tersisa 2 pasang calon yaitu Jokowi – Ahok dan Foke – Nachrowi, hasil pemilu putaran kedua sekali lagi memenangkan pasangan Jokowi – Ahok dengan mengantongi sebesar 53,82% dan meresmikan pasangan Jokowi – Ahok sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih pada Pilkada DKI Jakarta 2012.

Posisi Ahok sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta tidaklah lama, pada awal 2014 Ahok diangkat menjadi Plt (Pelaksana Tugas) Gubernur DKI Jakarta karena Joko Widodo memutuskan untuk melepaskan jabatanya sebagai Gubernur untu maju dalam Pilpres 2014 sebagai Calon Presiden dari Partai PDI-P. 

Beberapa program dan kebijakan langsung diterapkan Ahok ketika menjabat Plt Gubernur antara lain penertiban kawasan Kalijodo, penataan kawasan Pasar Tanah Abang, membangun Ruang Publik Terpadu Ramah Anak, relokasi Kampung Pulo, dan membangun Rumah Sakit Umum Kecamatan.

Hasil Pilpres 2014 menunjukan pasangan Joko Widodo – Jusuf Kalla terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden periode 2014 -2019, dengan hasil begitu maka Ahok pun resmi naik menjadi Gubernur DKI Jakarta. 

Dibuatlah surat dari DPRD DKI kepada Kementrian Dalam Negeri untuk melakukan pelantikan kepada Ahok Sebagai Gubernur DKI Jakarta, namun sayang penolakan secara keras terjadi dari Koalisi Merah Putih yang merupakan kubu oposisi dan Front Pembela Islam karena Ahok tidak beragam islam dan memiliki karakter yang tidak layak untuk menjadi pemimpin.

Secara resmi pada 19 November 2014 Basuki Tjahaja Purnama dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta oleh Presiden terpilih Joko Widodo, sekaligus menggandeng Djarot Saiful Hidayat untuk menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Kontroversi Ahok

Pepatah semakin “Tinggi Pohon maka Semakin Kencang Angin yang Menerjangnya” nampaknya benar-benar dirasakan Ahok. Berada dipuncak karir politiknya semasa hidup Ahok harus menghadapi perlawanan baik dalam pemerintahan dan di luar pemerintahan. 

Isu-isu rasis dan permasalahan agama benar-benar menjadi senjata para oposisi untuk melengserkan Ahok terutama dari Front Pembela Islam yang tidak terima dengan kehadiran Ahok. 

Semua permasalahan ini bermula ketika Ahok memutuskan untuk kembali bertarung dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 untuk mempertahankan posisinya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Pada suatu kesempatan Ahok melakukan kampanye di Pulau Seribu, beredar potongan video pidato Ahok ketika menyitir Surah Al Maidah ayat 51. Potongan video dengan durasi 13 detik itu berbuntut panjang dan menyulut kemarahan sebagian besar musuhnya termasuk Front Pembela Islam. 

Permasalahan ini semakin besar sejak Majelis Ulama Indonesia memutuskan bahwa berdasarkan potongan video tersebut Ahok melakukan penistaan agama, terjadilah demo dan unjuk rasa yang berkepanjangan yang saat ini dikenal sebagai PA 212 (Presidium Alumni yang melakukan unjuk rasa pada 2 Desember) hingga akhirnya kasus ini berakhir di persidangan. 

Pengadilan Negeri Jakarta Utara memvonis bahwa Ahok terbukti bersalah dan telah melakukan penistaan agama dan harus mendapatkan hukuman 2 Tahun penjara. Reaksi dan simpati datang baik dari dalam negeri maupun internasional, para pendukung Ahok yang tersebar diseluruh penjuru Indonesia melakukan Aksi Damai sebagai bentuk rasa simpati dimasing-masing daerahnya. 

Reaksi prihatin dan kecaman juga datang dari Dewan HAM PBB untuk Kawasan Asia dimana sangat prihatin dengan keputusan tersebut dan meminta pemerintahan Indonesia untuk mengkaji ulang pasal penistaan agama yang tertuang dalam UU Hukum Pidana.

Dengan pergolakan politik yang sangat panas pasangan Anies – Sandi berhasil memanfaatkan kesempatan tersebut hingga akhirnya berhasil mengalahkan pasangan Ahok – Djarot dengan keunggulan 58%. 

Selepas dari jabatan Gubernur DKI Jakarta Ahok harus merasakan dinginnya dibalik jeruji besi, setelah mendekam hampir 2 tahun lamanya Ahok dinyatakan bebas dari penjara sejak tanggal 24 Januari 2019 dan menyatakan tidak akan terjun lagi sebagai politikus dan memulai hidupnya yang baru.

Kategori Tokoh

Tinggalkan komentar